Showing posts with label Acaraku. Show all posts
Showing posts with label Acaraku. Show all posts

Friday, 28 April 2017

Pelantikan Bantara

Assalamu'alaikum Wr Wb
Salam Pramuka....

Bentuk keberlangsungan suatu organisasi adalah adanya pergantian kepengurusan. sebelum hal itu terjadi tentu saja penyiapan kader sangat diperlukan guna meneruskan tongkat kepemimpinan dari gereasi sekarang ke generasi berikutnya.

sebelum melangkah pada sesi reorganisasi, pelantikan bantara adalah hal yang mutlak dilakukan, dan alhamdulillah MA FSM Tempurejo





Read more ...

Tuesday, 25 April 2017

Pameran Prakarya dan Seni Budaya

Assalamu'alaikum Wr Wb.
selamat datang kembali di portal kami....
kali ini kami akan mempromosikan sebuah event dari dunia pendidikan, yakni Pameran Prakarya dan Seni Budaya yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah Fie Sabilil Muttaqien Tempurejo Tempuran paron.

Dalam event ini akan ditampilkan semua karya anak didik selama tahun pelajaran 2016/2017 sebagai hasil dari pembelajaran Prakarya dan Seni Budaya

Mari ramaikan event ini, lihat dan berilah kami masukan agar event ini dapat berkembang dan mengalami perbaikan,,,,,

bertempat di gedung MA FSM Tempurejo, Tempuran paron besok rabu, 26 April 2017 jam 08.30 - Selesai

jadilah saksi inovasi dan kreatifitas pemuda kami,,,,,
terima kasih
Wassalamu;alaikum Wr Wb







Read more ...

Monday, 3 April 2017

AYO berdonasi



Assalamu'alaikum Wr. Wb
Bulan ramadhan sebentar lagi akan datang, mari beramai-ramai berlomba dalam kebaikan dan bersenang gembira menyambut bulan penuh berkah ini.
Dalam kesempatan Bulan Ramadhan tahun ini, Racana Patimura Dewi sartika akan bekerja sama dengan KSR PMI Kab. Ngawi Unit IAI Ngawi Insya Allah akan melaksanakan kegiatan rutin bertajuk Ramadha Ceria Bersama Yatim Piatu dan Duafa di Desa Ringinanom Kec. Karangjati Kab. Ngawi
Untuk itu kami membuka kesempatan bagi para dermawan untk memberikan infak atau donasi untuk ikut membantu anak Yatim dan atau Piatu serta Duafa disekitar tempat kegiatan kami.

Adapun cara berdonasi adalah silakan klik tautan donasi di acara RCBYPD yang terletak di samping kanan web ini.

Dalam acara kali ini akan dikemas dengan berbagai sesi yang menarik, Mulai dari lomba antar anak, chek up gratis, serta buka sahur bersama. 

Bagi saudara-saudara yang ingin membantu non-materi silakan menghubungi cp kami untuk dimusyawarahkan bersama. bantuan bisa uang, barang yang masih bisa dimanfaatkan atau yang lain ....

Read more ...

Thursday, 30 March 2017

Tryout UN 2017 Kemenag JATIM


 Ujian Nasional sering menjadi momok bagi setiap siswa di kelas akhir, baik itu tingkat menengah pertama ataupun menengah atas. Walau peraturan kian ringan dalam Ujian Nasional, namun tetap saja masih ada siswa yang takut dalam menghadapinya. Tidak bisa disalahkan, pola pikir anak memang cenderung takut akan apa yang belum pernah mereka lakukan, atau kegiatan asing. beranjak dari masalah tersebut, seringkali lembaga secara pribadi maupun dikoordinasi mengadakan uji coba ujian nasional guna siswa mengetahui gambaran dan pandangan akan teknis dan soal-soal yang mungkin akan dihadapi oleh para siswa.

Pada kesempatan Ujian Nasional 2017, semua lembaga tingkat SMA/Sederajad dihimbau dengan sangat mengadakan ujian nasional berbasis komputer / CBT sync. bahkan untuk JATIM, seluruh SMA/Sederajat melaksanakan UNBK secara mandiri. semua lembaga mempersiapkan sebaik mungkin mulai dari teknis maupun mental anak dalam menghadapi ujian akhir ini. karena diharapkan anak didik akan mendapatkan hasil yang maksimal dan kelancaran dalam pelaksanaannya
pada tanggal 27, 28-31 Maret 2017  dilaksanakan Tryout Ujian Nasional dengan serentak untuk Madrasah Aliyah. dengan ini diharapkan siswa siswi madrasah memiliki pandangan akan soal yang akan dihadapi. Hal ini karena dalam Simulasi UNBK hanya untuk masalah teknis sehingga tetap diperlukan Tryout yang memberi gambaran soal sesuai kisi-kisi.
Read more ...

Monday, 27 March 2017

TERBANG MELAYANG



Karena terletak di garis katulistiwa, Indonesia secara umum akan memiliki iklim tropis dan memiliki 2 musim yakni penghujan dan kemarau. Dengan dampak ini, Indonesia sering terjadi banjir saat musim penghujan dan kekeringan dasyat saat musim kemarau. Tapi tahukah anda, menurut saya Indonesia memiliki banyak sekali musim, sekali lagi ini menurut saya. Di Indonesia, khususnya jawa, khusus lagi tempat tinggal saya di Ngawi, Jawa Timur, kami punya banyak sekali musim. Musim yang ada di kota saya selain musim penghujan dan musim kemarau ada juga musim mangga, musim durian, musim rambutan, musim panen padi, musim yang tak kalah heboh adalah musim hajatan.
Kenapa hajatan saya bilang musim, dikarenakan di kota saya masih banyak masyarakat yang menjunjung tinggi adat – adat nenek moyang dalam hal hajatan. Ya secara adat orang jawa akan menghitung/mencari hari baik dalam melaksanakan hajatan. Dan setelah mendapat hari baik tidak ayal akan menumpuk orang yang melaksanakan hajatan dan juga bias jadi terlaksana secara berkala. Layaknya atlet lari estafet, hajatan di wilayah saya sambung menyambung saling bergantian sampai di ujung “bulan baik”.
Dalam hajatan, masyarakat kami masih menjunjung adat rewang atau dalam bahasa Indonesia disebut gotong royong dalam melaksanakan hajatan. Walau terkadang satu RT melaksanakan hajatan beriringan berganti hari berganti tempat akan tetapi budaya ini tetap dijunjung tanpa dirusak dengan alasan lelah. Dalam budaya kami saling membantu sudahditanamkan sedari dulu, orang kaya dan miskin akan berbaur dalam acara ini sehingga bisa menjadi penghancur penghalang status ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, budaya gotong royong sangat berguna bagi masyarakat Indonesia, sehingga tidak salah dahulu nenek moyang kita selalu mengajarkan untuk saling membantu antar tetangga. Dimana di era yang semakin komplek dan budaya barat semakin banyak dating menggerus budaya kita, sikap menjunjung tinggi dan cita akan budaya nenek moyang perlu untuk dipertahankan dan diwariskan. Coba kita pikirkan sejenak, apabila kita kita sebagai masyarakat Indonesia akan tetapi melupakan budaya sendiri, suatu saat nanti anak cucu kita jika ingin mengetahui budaya bangsa mungkin harus kuliah di luar negeri.
Kalau kita sebagai penerus budaya bangsa tidak peduli, maka jangan marah jika Negara lain mengambil budaya kita. Sudah banyak budaya kita dipelajari orang asing karena keindahannya, namun kenapa kita justru tak mengerti akan budaya kita sendiri. Saya mulai bepikir, kita menjadi asing di negeri sendiri.


#terbangmelayang2k17
#mencobabangkit
Read more ...

Wednesday, 13 May 2015

Populasi dan Sampel

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Populasi dan sampel bukan menjadi istilah asing lagi bagi kita sebagai generasi muda. Populasi dan Sampel adalah istilah yang sering digunakan dalam penelitian, baik itu berupa penelitian yang di dalam laboraturium maupun penelitian ilmiah lainnya.
Populasi dan sampel menjadi sangat penting, sebab disinilah data akan didapat dan diolah dalam mencari sebuah jawaban atas masalah. Populasi dan sampel adalah objek penelitian, sehingga semua akan bergantung pada hal ini. Ketepatan dalam mengambil sampel akan mempengaruhi penelitian itu benar atau tidak.
Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas mengenai populasi, sampel dan teknik sampling. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek tersebut. Bahkan satu orangpun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicara, disiplin, pribadi, hobi, dan lain-lain.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada populasi, hal ini dikarenakan adanya keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Oleh karena itu sampel yang akan diambil dari populasi harus betul-betul representatif (dapat mewakili
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian populasi?
2. Apakah jenis-jenis populasi?
3. Apakah pengertian sampel?
4. Apakah yang dimaksud dengan teknik sampling?
5. Apa saja teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian?
6. Bagaimana cara menentukan ukuran sampel?
C. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Menguraikan pengertian populasi
2. Memaparkan jenis-jenis populasi
3. Menguraikan pengertian sampel
4. Menguraikan pengertian teknik sampling
5. Menjelaskan teknik-teknik pengambilan sampel
6. Menjelaskan cara menentukan sampel




3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Populasi
Sugiyono[1] menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek itu.
Dalam penelitian, populasi dibedakan menjadi 2[2], antara lain:
a. Populasi Umum adalah populasi yang menjadi sasaran secara umum. Misalnya : Ahmad ingin meneliti mahasiswa jurusan tarbiyah angkatan 2011 di STAIN Ponorogo.
b. Populasi Target adalahnpopulasi yang menjadi sasaran keberlakuan kesimpulan penelitian kita. Misalnya : Ahmad ingin meneliti mahasiswa jurusan tarbiyah, program studi Bahasa Arab angkatan 2011 di STAIN Ponorogo.
Nana Syaodih Sukmadinata mengelompokan populasi di bedakan menjadi 2 yaitu:
a. Populasi Terukur adalah populasi yang secara riil dijadikan dasar dalam penentuan sempel, dan secara langsung menjadi lingkup sasaran keberlakuan kesimpulan. Misalnya: Keterampilan IT Dosen STAI Ngawi di Ngawi.
b. Populasi Target adalah populasi yang dengan alasan yang kuat serta memiliki kesamaan karakteristik dengan populasi terukur. Misalnya: karena kecerdasan atau bakat berbahasa, kematangan berbahasa, usia, status ekonomi dan sosial mahasiswa semester IV STAIN Ngawi sama dengan di STAIN Ponorogo, maka kesimpulan tentang kecakapan berbahasa mahasiswa semester IV STAIN Ngawi berlaku untuk mahasiswa semester IV STAIN Ponorogo. Populasi STAIN Ponorogo sebagai populasi target.
Di samping itu persoalan populasi bagi suatu penelitian harus di bedakan ke dalam sifat berikut ini:
a. Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu di persoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu tidak perlu mengambil satu botol darah, karena baik setetes maupun satu botol hasilnya akan sama saja.
b. Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu di tetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia menghadapi populasi yang heterogen.

B. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi[3]. Bila populasi besar tidak mungkin peneliti mempelajari semua yang ada pada populasi , misalnya karena adanya keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat mengambil sampel yang diambil dari populasi tersebut. sebagian dari populasi. Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut ini[4] :
a. Subjek pada sampel lebih sedikit dibandingkan dengan populasi.
b. Apabila populasi terlalu besar, maka di khawatirkan ada yang terlewati.
c. Penelitian dapat dilaksanakan lebih efisien ( dari segi waktu, biaya dan tenaga).
d. Lebih teliti dan cermat dalam proses pengumpulan data.
e. Penelitian lebih efektif, karena jika menggunakan populasi kadang penelitian bersifat destruktif ( merusak ).

C. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel[5]. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang bisa digunakan, secara skematis, teknik sampling digambarkan sebagai berikut:



















Rounded Rectangle: Probability sampling

Rounded Rectangle: Nonprobability sampling












Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling.
1. Probability/Random Sampling
Random sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberi peluang yang sama bagi setiap unsur ( anggota ) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel.
Teknik ini tidak pilih-pilih dan didasarkan atas prinsip-prinsip matematis yang telah diuji dalam praktek.
a. Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana
Dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar.
Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 pendidikan matematika (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, maupun tabel bilangan random. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.







b. Proportionate Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan
Graphic1.jpgTeknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.






Gambar Teknik Stratrified Random Sampling



c. Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya Pegawai yang lulusan S3=3, S2 = 4, S1 = 90, SMA = 800, SMP= 700 maka 3 orang lulusan S3 dan 4 orang S2 itu harus diambil semuanya sebagai sampel. Karena 2 kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMA, dan SMP.
d. Cluster Sampling atau Sampel Gugus
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel jika yang diteliti atau sumber data sangat luas, misal suatu negara. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.
contoh, di Indonesia terdapat 34 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.









Gambar Teknik Cluster Random Sampling














2. Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak
Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang / kesempatan sama bagi setiap unsur/anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Misalnya lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).
a. Systematic Sampling atau Sampel Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
POPULASI
1
11
21
31
2
12
22
32
3
13
23
33
4
14
24
34
5
15
25
35
6
16
26
36
7
17
27
37
8
18
28
38
9
19
29
39
10
20
30
40
Right Arrow: Diambil secara sistematisSAMPEL
3
6
9
12
15
18
21
24
27
30
33
36
39
Sampling sistematis No. Populasi kelipatan 3 yang diambil



b. Quota Sampling
Teknik Quota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah Quota yang diinginkan. Sebagai contoh jika akan melakukan penelitian kinerja guru sekabupaten Ngawi dengan populasi 1000 guru dan mengambil sampel 500 guru. Maka sebelum mendapatkan sampel 500 guru penelitian belum bisa dihentikan atau diambil kesimpulan.

c. Sampling Incidental
Sampling Incidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan/Incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sampel, bial dipandang orang yang kebetulan bertemu itu cocok sebagai sumber data.
d. Purposive Sampling
Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.
Misalnya, untuk memperoleh data tentang bagaimana keadaan atau karakteristik suatu sekolah, maka kepala sekolah merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi.
e. Sampling Jenuh
Menurut Sugiyono[6] sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f. Snowball Sampling – Sampel Bola Salju
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula- mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman- temannya untuk dijadikan sampel . Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball.
Teknik ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. . Teknik sampel ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Snowball Sampling





D. Menentukan Ukuran Sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah dengan jumlah anggota populasi itu sendiri. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi. Jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian tergantung pada tingkat ketelitian atau kesalahan yang dikehendaki karena tingkat ketelitian yang dikehendaki sering tergantung pada sumber dana, waktu, dan tenaga yang tersedia. Sehingga berapapun jumlah sampel yang akan kita ambil tidak ada batasan, karena semua sesuai dengan kemampuan masing- masing individu, hanya saja ada beberapa pendapat yang bisa kita jadikan pedoman dalam penentuan, pengambilan, dan perhitungan sampel untuk populasi.


1. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan Tabel Issac dan Michael
Berikut ini diberikan tabel penentuan jumlah sampel dari populasi yang dikembangkan dari Isaac dan Michael, untuk tingkat kesalahan 1%, 5%, 10%.



dengan dk=1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, atau 10%
P = Q =0,5. D = 0,05. S = Jumlah sampel
Penentuan Jumlah sampel tertentu dai populasi tertentu dengan taraf kesalahan 1%, 5%, dan 10%










2. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan Nomogram Harry King
Harry King menghitung sampel tidak hanya didasarkan atas kesalahan 5% saja, tetapi bervariasi sampai 15%. Tetapi jumlah populasi paling tinggi hanya 2000. Nomogram ini ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Dari gambar tersebut diberikan pula contoh bila populasi 200, kepercayaan sampel dalam mewakili populasi 95%, maka jumlah sampelnya sekitar 58% dari populasi. Jadi 0,58 × 200 = 116. Bila populasi 800, kepercayaan sampel 90% atau kesalahan 10%, maka jumlah sampel = 7,5% dari populasi. Jadi 0,075 × 800 = 60. terlihat di sini semakin besar kesalahan akan semakin kecil jumlah sampel. Gambar Nomogram Harry King di bawah ini.





















Contoh: misal populasi berjumlah 200. Bila dikehendaki kepercayaan sampel terhadap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%, maka jumlah sampel yang diambil 0,58 × 200 = 16 orang. (Tarik dari angka 200 melewati taraf kesalahan 5%, maka akan ditemukan titik di atas angka 60. Titik itu kurang lebih 58).

Sebagai contoh:
Akan diadakan penelitian terhadap masyarakat terhadap kualitas pendidikan di SDN Ngawi 3. Sebagai populasinya adalah masyarakat desa dimana sekolah itu berada. Berdasarkan jenjang pendidikan populasi diperoleh data sebagai berikut : S2 = 50, S1 = 300, SMA = 500, SMP = 100, SD = 50.
Dengan menggunakan tabel Isaac and Michael diperoleh data bila jumlah populasi = 1000, kesalahan bertaraf 5%, maka jumlah sampelnya 258. Karena populasinya berstrata maka sampelnya juga berstrata, seperti ditunjukkan dibawah :

























Jadi sampelnya adalah 13 + 77 + 129 + 26 + 13 = 258






a.jpg









BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
b. Jenis-jenis populasi: populasi umum dan populasi target
c. Sifat populasi dibagi menjadi 2 yaitu populasi homogen dan populasi heterogen.
d. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
e. Adapun alasan penelitian menggunakan sampel adalah:
1) Subjek pada sampel lebih sedikit dibandingkan dengan populasi.
2) Apabila populasi terlalu besar, maka di khawatirkan ada yang terlewati.
3) Penelitian dapat dilaksanakan lebih efisien ( dari segi waktu, biaya dan tenaga).
4) Lebih teliti dan cermat dalam proses pengumpulan data.
5) Penelitian lebih efektif, karena jika menggunakan populasi kadang penelitian bersifat destruktif ( merusak ).
f. Teknik-teknik yang di gunakan dalam pengambilan sampel
1. Probability/Random Sampling.
2. Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak.



14





DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono, 2012, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta.
Arif Rahman Hakim, 2012, Diktat Pengantar Metodologi Penelitian, Ngawi.




MAKALAH

POPULASI DAN SAMPEL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Manajemen Pendidikan
Yang diampu oleh Bapak Hariadi, S.Ag., M.Pd



Disusun Oleh Kelompok 5:
Novicha Andika S
Dumadi
M. Ubab
Sunanik
Lilis
Selfi A


PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NGAWI
i

Jalan Ir. Soekarno No.99 Ring Road ngawi
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik, hidayah, serta inayah-Nya kepada kaum muslimin dengan diturunkannya Al Qur’an yang suci, dan telah menjamin terpeliharanya hinggaakhir zaman.
Semoga sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita kepada keindahan islam, yang kita nantikan syafa’atnya di hari kiamat.
Dengan rahmat dan hidayah Allah AWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Populasi dan Sampel” ini dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Selain itu, dalam proses penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak terutama kepada Dosen Pengampu Hariyadi, S.Ag., M.Pd yang telah memberikan bimbingan dan arahan. atas segala bantuan tersebut, penulis tidak dapat membalas berupa apapun kecuali ucapan terima kasih seraya mengharapkan limpahan rahmat Illahi.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari tentu banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu kritik serta saran yang membangun sangat diharapkan dari para pembaca sekalian demi perbaikan selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua..aamiin

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................... 1
B. Perumusan masalah ................................................................ 2
C. Tujuan dan Manfaat ............................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Populasi................................................................................... 3
B. Sampel..................................................................................... 4
C. Teknik Sampling...................................................................... 5
D. Menentukan Ukuran Sampel................................................... 10
BAB III KESIMPULAN .................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA








iii



[1] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,(Bandung, Alfabeta,2012) hal.80
[2] Arif Rahman Hakim,Diktat Pengantar Metodologi Penelitian,(Ngawi,2012)hal.26
[3] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D....hal. 81
[4] Arif Rahman Hakim,Diktat Pengantar Metodologi Penelitian.....hal. 27
[5] Arif Rahman Hakim,Diktat Pengantar Metodologi Penelitian.....hal. 27
[6] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D....hal. 85
Read more ...

Kebijakan Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kebijakan adalah hal yang umum dalam menjalankan sebuah organisasi, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Kebijakan memberikan dasar pada anggota dalam menjalankan tugas danfungsinya di dalam organisasi. Jika diibaratkan organisasi, negara adalah organisasi yang sangat kompleks dan berskala besar dengan segala masalahnya.
Sebagai sebuah kesatuan yang utuh dan luas, sebuah negara harus dipimpin oleh orang yang cakap dalam menjalankan manajemen. Dalam setiap usaha dalam mencapai visi dan misi negara, seorang pemimpin sudah pasti akan mengeluarkan kebijakannya sebagai dasar bawahannya serta masyarakat dalam menjalankan fungsinya demi kesejahteraan rakyat.
Kebijakan sendiri adalah arah tindakan yang mempunyai tujuan yang ditetapkan oleh seseorang atau beberapa aktor guna mengatasi suatu masalah[1]. Dari pengertian tersebut sudah jelas bahwasanya kebijakan diciptakan untuk menyelesaikan suatu masalah. Lantas masalah apa yang akan diselesaikan dengan sebuah kebijakan dalam suatu negara? Sudah pasti diharapkan semua masalah dalam suatu negara dapat diselesaikan dengan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah.
Begitu pentingnya peran kebijakan yang diciptakan oleh pemerintah tentu akan membuat pembuatannya begitu detail dan teliti. Demi menciptakan sebuah produk kebijakan yang tepat guna dan tepat sasaran, sudah pasti pemerintah akan membuat kebijakan dengan berbagai pendekatan yang tepat pula.
Dari berbagai hal diatas maka penulis ingin memaparkan berbagai pendekatan dalam memformulasi kebijakan.

B.     Rumusan Masalah
Dalam pembahasan kali ini, kelompok kami akan mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa saja pendekatan yang digunakan dalam formulasi kebijakan?
2.      Bagaimana ilustrasi pendekatan kebijakan yang digunakan?

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apa saja pendekatan yang digunakan dalam formulasi kebijakan.
2.      Untuk mengetahui bagaimana ilustrasi pendekatan kebijakan yang digunakan.


BAB II
PEMBAHASAN

 
 
A.    Pendekatan Formulasi Kebijakan
Sebagaimana telah diungkapkan bahwa kebijakan adalah arah tindakan yang mempunyai tujuan yang ditetapkan oleh seseorang atau beberapa aktor guna mengatasi suatu masalah. Sedangkan dalam KBBI[2] disebutkan bahwa Kebijakan (n) 1 kepandaian; kemahiran; kebijaksanaan; 2 rangkaian konsep dan asas yg menjadi garis besar dan dasar rencana dl pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tt pemerintahan, organisasi, dsb); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran; garis haluan:
Dari 2 definisi diatas nampak jelas inti dari kebijakan adalah guna menjadi pedoman atau acuan dalam menyelesaikan masalah. Sehingga dalam pembuatannya perlu adanya pendekatan guna mengetahui keperluan dan sejauh mana kebijakan itu akan digunakan dan berdampak pada masyarakat.
Adapun pendekatan formulasi kebijakan publik, termasuk kebijakan pendidikan adalah sebagai berikut :
1.      Pendekatan Institusional
Formulais kebijakan dengan menggunakan pendekatan institusional mengandaikan bahwa tugas membuat kebijakan pendidikan adalah tugas pemerintah. Pendekatan institusi dipandang sebagai pendekatan yang paling sempit dan sederhana dalam formulasi kebijakan pendidikan. Pendekatan Institusional mendasarkan pada fungsi-fungsi kelembagaan pendidikan dari berbagai tingkatan dalam formulasi kebijakan.
Ada tiga alasan pembenaran pendekatan ini, yaitu : Pertama pemerintah memang sah dalam membuat kebijakan pendidikan, Kedua fungsi pemerintah membuat kebijakan adalah bersifat universal, Ketiga pemerintah memonopoli fungsi pemaksaan dalam kehidupan bersama.
Kelemahan dalam pendekatan ini adalah terabaikannya masalah-masalah lingkungan tempat kebijakan itu berada dan diterapkan.

2.      Pendekatan Proses
Menurut pendekatan ini, kebijakan diciptakan melalui tahapan-tahapan yang runtut, tidak melompat-lompat atau langsung jadi. Asumsinya adalah kebijakan pendidikan adalah sebuah aktivitas, sehingga membutuhkan proses. Dalam pendekatan ini, ada beberapa proses dalam membuat sebuah kebijakan pendidikan, langkah-langkah tersebut adalah : Identifikasi Permasalahan, Menata Agenda Formulasi Kebijakan, Perumusan Proposal Kebijakan, Legitimasi Kebijakan, Implementasi Kebijakan, Evaluasi Kebijakan.
3.      Pendekatan Teori Kelompok
Pendekatan teori kelompok dalam formulasi Kebijakan Pendidikan mengandaikan bahwa kebijakan kebijakan merupakan titik keseimbangan (Equilibrium). Inti gagasannya dalah interaksi antar kelompok akan menghasilkan keseimbangan, dan keseimbangan adalah yang terbaik untuk semua. Menurut teori ini, individu-individu dalam kelompok-kelompok berinteraksi baik secara formal maupun informal, dan secara langsung maupun melewati media massa menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pendidikan yang diperlukan.
Dalam konteks ini, sistem politik berperan memanajemi konflik yang muncul dari adanya perbedaan tuntutan, melalui cara berikut :
a.       Merumuskan aturan main antar kelompok kepentingan.
b.      Menata, kompromi dan menyeimbangkan kepentingan.
c.       Memungkinkan terbentuknya kompromi dalam kebijakan pendidikan yang akan dirumuskan.
d.      Memperkuat kompromi-kompromi tersebut.

4.      Pendekatan Elitis
Ada beberapa yang melihat bahwa dalam suatu sistem politik, kebijakan pendidikan dibuat oleh elite dari sistem itu. Dengan demikian, kebijakan pendidikan mencerminkan keinginan dan kehendak kaum elite saja, tanpa ada aspirasi masyarakat yang terserap didalamnya. Yang dimaksud kaum elite pada umunya adalah pemimpin yang kuat, keluarganya, pengusaha yang dekat dengan keluarga pemimpin, dantentu saja pemimpin militer. Dalam buku lain disebutkan cendikiawan dan mahasiswa juga kaum elite, akan tetapi pada biasanya mereka tidak aktif mendekati pemimpin, kecuali diminta.
Pendekatan elite berkembang dari teori elite-massa yang melandaskan pada asumsi bahwa setiap masyarakat terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok penguasa (elite) dan kelompok tidak memiliki kekuasaan ( massa ). Teori ini berbasis pada kenyataan bahwa sedemokratis apapun, selalu ada celah pada kebijakan karena pada akhirnya kebijakan-kebijakan yang dilahirkan merupakan preferensi politik dari para elite yang berkuasa.

5.      Pendekatan Rasional
Pendekatan ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan pendidikan sebagai maximum social gain yang berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan pendidikan harus memilih kebijakan pendidikan yang memeberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Menurut pendekatan rasional proses formulasi kebijakan pendidikan haruslah didasarkan pada keputusan yang sudah diperhitungkan rasionalitasnya. Rasionalitas yang diambilmadalah perbandingan antara pengorbanan dan hasil yang dicapai.
Pada pendekatan ini, prosedur formulasi kebijakan pendidikan disusun dalam urutan sebagai berikut :
a.       Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya.
b.      Menemukan pilihan-pilihan.
c.       Menilai konsekuensi masing-masing pilihan.
d.      Menilai rasio nilai sosial yang dikorbankan.
e.       Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien.
Bisa jadi pendekatan ini barangkali merupakan pendekatan ideal dalam perumusan kebijakan pendidikan dalam arti menciptakan efisiensi dan efektivitas. Namun pendekatan ini juga memiliki kelemahan, yaitu konsep maximum social gain berbeda pada setiap kelompok kepentingan.

6.      Pendekatan Inkremental
Pendekatan inkremental pada dasarnya merupakan kritik terhadap pendekatan rasional. Hal itu disebabkan karena para pembuat kebijakan pendidikan tidak pernah melakukan proses seperti yang disyaratkan oleh pendekatan rasional dengan alasan mereka tidak memiliki cukup waktu, tidak memiliki kapasitas intelektual dan biaya, bahkan dikawatirkan muncul dampak yang tidak diinginkan akibat kebijakan yang belum pernah dibuat sebelumnya, adanya hasil-hasil kebijakan sebelumnya yang harus dipertahankan, dan menghindari konflik.
Menurut pendekatan ini, kebijakan pendidikan merupakan kelanjutan kebijakan pendidikan dimasa lalu. Pendekatan ini ditempuh ketika pengambil kebijakan pendidikan berhadapkan dengan keterbatasan waktu, ketersediaan informasi, kecukupan dana untuk melakukan evaluasi yang komprehensif. Sementara itu pengambil kebijakan pendidikan dihadapkan pada ketidakpastian yang muncul disekelilingnya. Tentu saja pilihannya adalah melanjutkan kebijakan lama dengan sedikit modifikasi seperlunya.

7.      Pendekatan Pemetaan Terpadu
Pendekatan pemetaan terpadu merupakan upaya penggabungan antara pendekatan rasional dan pendekatan inkremental. Pendekatan ini merupakan pendekatan terhadap formulasi kebijakan pendidikan pokok dan inkremental. Menetapkan proses-proses formulasi kebijakan pendidikan pokok dan urutan tinggi yang menentukan petunujuk-petunjuk dasar. Menetapkan proses-proses yang mempersiapkan keputusan-keputusan pokok, dan menjalankan setelah keputusan itu tercapai.
Dalam pendekatan ini diibaratkan sebagai dua buah kamera, kamera dengan wide angle untuk melihat keseluruhandan kamera dengan zoom  untuk melihat detailnya. Sebetulnya pendekatan ini adalah pendekatan yang amat menyederhanakan masalah.

8.      Pendekatan Teori Permainan
Asalnya, teori permainan adalah salah satu cabang ilmu matematika yang mempelajari berbagai elemen yang saling berkait dalam pembuatan keputusan. Teori ini diterapkan dalam berbagai situasi sosial dimana terdapat lebih dari satu pembuat kebijakan yang disebut “pemain” yang masing-masing memiliki serangkaian pilihan tindakan yang disebut “strategi.” Hasil akhirnya sangat ditentukan strategi mana yang lebih unggul dan pemilihan strategi terbaik sangat ditentukan oleh kemampuan pemain dalam memahami situasi dan mengadakan berbagai perhitungan.
Teori permainan berhubungan dengan variasi situasi dimana beberapa pengambil kebijakan saling berhadapan, dan tingkat kepuasan yang dicapai oleh salah satu dari mereka tidak saja tergantung pada pilihannya, tetapi juga pilihan dari yang lainnya. Pendekatan formulasi kebijakan pendidikan menurut teori ini biasanya dianggap sebagai oendekatan konspiratif. Pendekatan permainan ini sebetulnya berdasarkan pada formulasi kebijakan yang rasional namun dalam kondisi kompetisi, dimana keberhasilan kebijakan tidak hanya tergantung pengambil kebijakan akan tetapi juga aktor-aktir lain.
Pendekatan teori permainan mirip dengan dengan pendekatan pluralis dimana penetapan kebijakan pendidikan merupakan hasil dari proses kompetisi antar berbagai kelompok yang berbeda. Kekuatan antar kelompok dalam mempengaruhi agenda kebijakan pendidikan tidak hanya terkonsentrasi di satu tangan tetapi tersebar.

9.      Pendekatan Pilihan Publik
Pendekatan ini melihat kebijakan pendidikan sebagai sebuah proses formulasi keputusan kolektif dari indivisu-individu yang berkepentingan atas keputusan tersebut. Akar pendekatan ini adalah berasal dari teori ekonomi pilihan publik yang mengandaikan manusia adalah Homo economicus yang memiliki kepentingan-kepentingan yang harus dipuaskan. Pada intinya setiap kebijakan pendidikan yang dibuat pemerintah harus merupakan pilihan publik yang menjadi pengguna.
Proses formulasi kebijakan pendidikan dengan demikian melibatkan publik melalui kelompok-kelompok kepentingan. Secara umum ini merupakan konsep formulasi kebijakan pendidikan yang paling demokratis karena memberi ruang luas kepada stakeholders pendidikan untuk mengkontribusikan pilihan-pilihannya kepada pemerintah sebelum diambil keputusan.

10.  Pendekatan Sistem
Pendekatan ini diperkenalkan pertama kali oleh David Easton yang melakukan analogi dengan sistem biologi. Pada dasarnya sistem biologi merupakan proses interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, yang akhirnya menciptakan kelangsungan perubahan hidup yang relatif stabil.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah terpusatnya perhatian pada tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah , dan pada akhirnya kita kehilangan perhatian pada apa yang tidak pernah dilakukan pemerintah.

11.  Pendekatan Demokratis
Pada pendekatan inidikehendaki agar setiap “pemilik hak demokrasi” diikutsertakan sebanyak-banyaknya dalam formulasi kebijakan pendidikan. Pendekatan ini berkembang tertama di negara-negara yang baru saja mengalami transisi dari sitem politik otoritarian ke sistem politik demokrasi. Pendekatan demokratis biasanya diperkaitkan dengan implementasi good governance bagi pemerintah yang mengamanatkan agar dalam membuat kebijakan pendidikan, para konstituen dan pemanfaat diakomodasi keberadaannya.
Pendekatan ini sangat baik, akan tetapi kurang efektif dalam mengatasi masalah-masalah yang kritis, darurat dn dalam kelangkaan sumber daya. Namun jika dapat dilaksanakan, pendekatan ini sangat efektif dalam implementasinya karena setiap piihak mempunyai kewajiban untuk ikut serta mencapai keberhasilan kebijakan pendidikan dan setiap pihak bertanggung jawab atas kebijakan pendidikan yang dirumuskan.

12.  Pendekatan Strategik
Inti dari pendekatan ini adalah menggunakan rumusan runtutan formulasi strategi sebagai basis kebijakan pendidikan. Makna dari perencanaan strategis yaitu upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memandu bagaimana menjadi organisasi (atau entitas lainnya), apa yang dikerjakan organisasi (atau entitas lainnya) dan mengapa organisasi (atau entitas lainnya) mengerjakan hal seperti itu.
Proses formulasi strategis disusun berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Memrakarsai dan menyepakati proses perencanaan strategis.
b.      Memahami manfaat proses perencanaan strategis.
c.       Merumuskan panduan proses.
d.      Memperjelas mandat dan misi organisasi.
e.       Menilai dengan analisis SWOT.
f.       Mengidentifikasi isu strategis yang dihadapi.
g.      Merumuskan strategi untuk mengelola isu.
Biasanya ada tiga fase dalam formulasi kebijakan strategis,yaitu pertama adalah apresiasi lingkungan ekstrnal dan internal tempat dimana kebijakan pendidikan akan beroperasi. Kedua pilihan dari strategi agar sesuai dengan lingkungan, dan ketiga adalah implementasi strategi yang dipilih didalam kebijakan pendidikan.

13.  Pendekatan Deliberatif
Pendekatan deliberatif atau pendekatan musyawarah pada formulasi kebijakan pendidikan sama dengan analisis kebijakan dengan model Deliberative policy analysis. Proses analisis kebijakan pendidikan dengan pendekatan musyawarah ini jauh berbeda dengan pendekatan teknokratik karena peran analis kebijakan pendidikan hanya sebagai fasilitator agar masyarakat menemukan sendiri keputusan kebijakan pendidikan atas dirinya sendiri.

14.  Pendekatan “Tong Sampah”
Sebagian pakar mengatakan bahwa proses pembuatan kebijakan pendidikan itu tidak berjalan secara rapi seperti di pabrik, melainkan menyerupai pengolahan sampah. Berbagai masalah dan solusi dibuang oleh para partisipan ke tong sampah proses pembuatan kebijakan. Campuran sampah didalam tong tersebut tergantung dengan labelnya juga tergantung pada sampah apa yang diproduksi dan pada kecepatan apa pembuangan atau pengolahannya.
Pemikiran tentang pendekatan tong sampah ini didasarkan pada keyakinan bahwa proses kebijakan pendidikan merupakan serangkaian tindakan salam suatu “anarki yang terorganisasi” yang menjadikan berbagai pendekatan formulasi kebijakan pendidikan yang ada menjadi tidak relevan lagi.

B.     Ilustrasi Pendekatan Kebijakan
Bagaimana cara melihat suatu pendekatan dalam formulasi kebijakan pendidikan diterapkan? Berikut kami sajikan ilustrasi yang merupakan hasil riset dari Riant Nugroho mengenai kebijakan pendidikan yang unggul dengan studi kasus pembangunan pendidikan di Kabupaten Jembrana Tahun 2000-2006. Hasil riset Riant menunjukkan bahwa di Kabupaten Jembrana, kebijakan pendidikan terdiri dari 2 yaitu Keputusan Bupati dan Peraturan Daerah. Hal itu terdiri dari :
1.      Keputusan Bupati Nomor 24 tahun 2003 tentang Pembebasan Iuran Wajibpada SD, SMP, SMU, SMKNNegeri di Kabupaten Jembrana.
2.      Keputusan Bupati NomSor 1615 Tahun 2004 tentang Pemberian Beasiswa kepada Siswa tingkat SD, SMP, SMA dan SMK yang memperoleh Nilai Surat Tanda Kelulusan (STK) tertinggi dan berprestasi di Bidang Olahraga.
3.      Perda No. 10/2006 tentang Subsidi Biaya Pendidikan pada TK, SD, SMP, SMA, dan SMK Negeri di Kabupaten Jembrana
4.      Perda No. 14/2006 tentang Pemberian Beasiswa kepada Siswa yang Tidak Mampu pada Sekolah Swasta dan Siswa Berprestasi di Sekolah Negeri Maupun Swasta di Kabupaten Jembrana.
Sebagaimana diketahui, pada praktiknya proses formulasi kebijakan selalu merupakan kombinasi dari berbagai pendekatan yang ada. Perbedaannya terletak pada pendekatan mana yang dipandang lebih dominan dalam menentukan. Terhadap kasus diatas, peneliti menengarai bahwa pendekatan kebijakan pendidikan yang utama secara berurutan adalah pendekatan elite, pendekatan rasional dan pendekatan pilihan publik.
Dikatakan menggunakan pendekatan elite karena pada dasarnya publik tidak dilibatkan secara efektif didalam proses formulasi kebijakan pendidikan. Salah satu alasannya adalah kesenjangan kemampuan berpikir (intelektual) antara elie (khususnya bupati) dengan rakyat. Hal ini dikarenakan khususnya pada tahun 2000-2003 dimana kondisi pendidikan rakyat masih sanga rendah.
Dikatakan menggunakan pendekatan rasional karena prinsip-prinsip dasar yang digunakan adalah prinsip efisiensi untuk mencapai hasil yang maksimal. Dikatakan menggunakan pendekatan pilihan publik karena karena pada dasarnya, meskipun yang mengambil posisi sangat dominan dalam merumuskan kebijakan pendidikan adalah elit, dan meskipun pendekatannya rasional namun muatan inti didalam kebijakan lendidikan yang dirumuskan oleh elit sevara rasional itu mengacu pada pilihan utama dari rakyat.
Dari penelitian diatas disimpulkan bahwa proses formulasi kebijakan pendidikan di Jembrana diawali dengan proses percobaan dengan cara dilaksanakan tanpa kebijakan pendidikan yang diformulasikan secara legal-formal dan dikodifikasi. Setelah dipandang berhasil, baru dilakukan formulasi kebijakan pendidikan di tingkat eksekutif. Setelah tidak mendapatkan pertentangan, kemudia dikembangkan menjadi kebijakan pendidikan di tingkat legislatif. Proses penetrasi kebijakan pendidikan yang halus cenderung menurunkan tingkat konflikyang mungkin terjadi.


BAB III
PENUTUP

 
 
Kesimpulan
Adapun pendekatan formulasi kebijakan publik, termasuk kebijakan pendidikan adalah sebagai berikut :
1.      Pendekatan Institusional
2.      Pendekatan Proses
3.      Pendekatan Teori Kelompok
4.      Pendekatan Elitis
5.      Pendekatan Rasional
6.      Pendekatan Inkremental
7.      Pendekatan Pemetaan Terpadu
8.      Pendekatan Teori Permainan
9.      Pendekatan Pilihan Publik
10.  Pendekatan Sistem
11.  Pendekatan Demokratis
12.  Pendekatan Strategik
13.  Pendekatan Deliberatif
14.  Pendekatan “Tong Sampah”

Adapun dalam penerapan pendekatan kebijakan tidak hanya dipakai satu kali atau sendiri-sendri. Satu pendekatan dengan yang lain, saling melengkapi agar terciptanya pendidikan pramuka yang hebat


9
 

Dafar pustaka

 
 
Rawita, Ino Sutisno. Kebijakan Pendidikan:Teori, Implementasi, dan Monev. 2010. Yogyakarta : Kurnia Kalam Semesta
Ebta Setiawan. KBBI Offline versi 1.1 Freeware Copyright 2010




 
MAKALAH

Pendekatan Formulasi Kebijakan Pendidikan

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kebijakan Pendidikan
Yang diampu oleh Ibu Hj. Anik Faridah, M.Pd.I






Disusun Oleh Kelompok 5:
Novicha Andika S
Dumadi
Durotul Yatimah
Sunanik
Kiyarotul Umami




PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NGAWI
i
 
Jalan Ir. Soekarno No.99 Ring Road ngawi


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik, hidayah, serta inayah-Nya kepada kaum muslimin dengan diturunkannya Al Qur’an yang suci, dan telah menjamin terpeliharanya hinggaakhir zaman.
Semoga sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita kepada keindahan islam, yang kita nantikan syafa’atnya di hari kiamat.
Dengan rahmat dan hidayah Allah AWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pendekatan Formulasi Kebijakan Pendidikan” ini dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Selain itu, dalam proses penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak terutama kepada Dosen Pengampu Ibu Hj. Anik Faridah, M.Pd.I yang telah memberikan bimbingan dan arahan. atas segala bantuan tersebut, penulis tidak dapat membalas berupa apapun kecuali ucapan terima kasih seraya mengharapkan limpahan rahmat Illahi.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari tentu banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu kritik serta saran yang membangun sangat diharapkan dari para pembaca sekalian demi perbaikan selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua..aamiin

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh



Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL..........................................................................................................       i
KATA PENGANTAR...........................................................................................................      ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................................     iii
                
BAB I      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ..........................................................................................      1
B.     Rumusan masalah ......................................................................................      2
C.     Tujuan Penulisan .......................................................................................      2

BAB II    PEMBAHASAN
A.    Pendekatan Formulasi Kebijakan Pendidikan............................................      3
B.     Ilustrasi Pendekatan Kebijakan..................................................................      7

BAB III   PENUTUP
            Kesimpulan ......................................................................................................      9
DAFTAR PUSTAKA






                                                                     


iii
 
 


[1] Rawita,Ino Sutisno.Kebijakan Pendidikan:Teori, Implementasi, dan Monev. (Yogyakarta.2010) hal. 16
[2] Ebta Setiawan. KBBI Offline versi 1.1 Freeware Copyright 2010
Read more ...
copyright 2017 adinda30